" Tan Hana Dharma Mangruwah, Mitra Ika Satata "

Tuesday, July 29, 2008

Jangka Jayabaya

(====Ronggowarsito====)



Iki sing dadi tandane zaman kalabendu

1. Lindu ping pitu sedina

2. Lemah Lemah bengkah

3. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara

4. Pagebluk rupa-rupa

5. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati


Zaman kalabendu iku wiwit yen,

1. Wis ana kreta mlaku tanpa jaran

2. Tanah jawa kalungan wesi

3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang

4. Kali ilang kedunge

5. Pasar ilang kumandange

6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman

7. Jaran doyan sambel

8. Wong wadon menganggo lanang


Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya.

1. Mulane akeh bapak lali anak

2. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak

3. Sedulur pada cidro cinidro

4. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane

5. Akeh wong lanang ora duwe bojo

6. Akeh wong wadon ora setia karo bojone

7. Akeh ibu pada ngedol anake

8. Akeh wong wadon ngedol awake

9. Akeh wong ijol bojo

10. Akeh udan salah mangsa

11. Akeh prawan tuwa

12. Akeh randa ngalairake anak

13. Akeh jabang bayi nggoleki bapake

14. Wong wodan ngalamar wong lanang

15. Wong lanang ngasorake, drajate dewe

16. Akeh bocah kowar

17. Randa murah regane

18. Randa ajine mung sak sen loro

19. Prawan rong sen loro

20. Dudo pincang payu sangang wong


Zamane zaman edan

1. Wong wadon nunggang jaran

2. Wong lanang lungguh plengki

3. Wong bener tenger-tenger

4. Wong salah bungah-bungah

5. Wong apik ditampik-tampik

6. Wong bejat munggah pangkat

7. Akeh ndandhang diunekake kuntul

8. Wong salah dianggap bener

9. Wong lugu kebelenggu

10. Wong mulya dikunjara

11. Sing culika mulya, sing jujur kojur

12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang

13. Wong main akeh sing ndadi

14. Linak lija lingga lica, lali anak lali baja, lali tangga lali kanca

15. Duwit lan kringet mug dadi wolak-walik kertu

16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak

17. Ning mulih main kantonge kempes

18. Krungu bojo lan anak nangis ora di rewes


Abote kaya ngapa sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman kalabendu iku.

Amargo zaman iku bakal sirna lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak ing zaman Entenana zamane kamulyan zamaning ratu adil



Terjemahan bebasnya kurang lebih begini :


Ini yang menjadi tanda zaman kehancuran

1. Gempa bumi 7 x sehari

2. Tanah pecah merekah

3. Manusia berguguran, banyak yang ditimpa sakit

4. Bencana bermacam-macam

5. Hanya sedikit yang sembuh kebanyakan meninggal


Zaman ini ditandai dengan

1. Sudah ada kereta yang berjalan tanpa kuda

2. Tanah Jawa dikelilingi besi (mungkin maksudnya Rel kereta kali ya Red)

3. Perahu berjalan di atas awan melayang layang

4. Sungai kehilangan danaunya

5. Pasar kehilangan keramaianya

6. Manusia menemukan jaman yang terbolak-balik

7. Kuda doyan makan sambal

8. Orang perempuan mempergunakan busana laki-laki


Zaman kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia, tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia

1. Oleh sebab itu banyak bapak lupa sama anaknya

2. Banyak anak yang berani melawan ibu dan menantang bapaknya

3. Sesama saudara saling berkelahi

4. Perempuan kehilangan rasa malunya, Laki-laki kehilangan rasa kejantanannya

5. Banyak Laki laki tidak punya istri

6. Banyak perempuan yang tidak setia pada suaminya

7. Banyak ibu yang menjual anaknya

8. Banyak perempuan yang menjual dirinya

9. Banyak orang yang tukar menukar pasangan

10. Sering terjadi hujan salah musim

11. Banyak Perawan Tua

12. Banyak janda yang melahirkan anak

13. Banyak bayi yang lahir tanpa bapak

14. Perempuan melamar laki-laki

15. Laki-laki merendahkan derajatnya sendiri

16. Banyak anak lahir di luar nikah

17. Janda murah harganya

18. Janda nilainya hanya satu sen untuk dua

19. Perawan nilainya dua sen untuk dua

20. Duda berharga 9 orang


Zamannya Zaman Gila/Sinting

1. Perempuan menunggang Kuda

2. Laki-laki berpangku tangan

3. Orang yang benar cuma bisa bengong

4. Orang yang melakukan kesalahan berpesta pora

5. Orang Baik di singkirkan

6. Orang Yang kelakuannya bejat malah naik pangkat

7. Banyak komentar yang tidak ada isinya

8. Orang salah diangap benar

9. Orang lugu dibelenggu

10. Orang mulia dipenjara

11. Yang salah mulia, yang jujur hancur

12. Pedagang banyak yang menyeleweng

13. Orang berjudi semakin menjadi

14. Lupa anak dan pasangan, lupa tetangga dan teman

15. Uang dan keringat hanya untuk berjudi

16. Kartu besar dibuka, tertawa terbahak-bahak

17. Tapi waktu pulang main kantongnya kosong

18. Denger anak istri nangis tidak digubris


Berat seperti apapun jangan sampai kalut

(lebih tepatnya) Seberat apapun jangan sampai ikut larut dalam warna-warni zaman kalabendu


Sebab jaman itu bakal sirna dan diganti dengan jaman Ratu adil, jaman kemuliaan, karena itu yang tegar, yang tabah, yang kokoh, Jangan melakukan hal bodoh. Tunggulah jaman kemuliaan jamannya Ratu adil

Friday, May 16, 2008

Dijewer Gusti Allah

Tulisane Kang Ucup

Poso wis entuk rong minggu, weteng luwe wis mulai ora kroso.
Racun ing awak wis dibuang
Banjur kemaruk, ujub, takabur....
Rumangsaku awak luwih seger, sehat, otot kawat balung wesi.
Ngibadah soyo grengseng.. kumudu-kudu enggal katam lehe moco Quran.
Tarweh ojo nganti bolong.

Umuk setengah sombong. rumongso wis dingapuro dosa-dosane.
Rumangsa dadi wong kang cinaketan lan diasihi karo Gusti Allah.
Rumangsa ora ono meneh sing salah kudu dipenerake.
Elinga kowe..... menawa mengkono terus, Gusti Allah bakal njewer kowe.

Lah harak tenan, tan kocapa naliko mung mergo ono krikil sak kacang ijo.. kowe kudu lumah-lumah tanpa daya limang dino.. posomu kudu distop, ngajimu ora bisa terus, tarwehmu kudu absen.

Mula... aja gambang gede roso, aja gampang umuk rumangsa nek wis kinasihan Pangeran,
bakal entuk kanugrahan...

Let me be a Wayang

O Lord, let me be a wayang in Thy hands

(Noto Suroto - 1920's)


O Lord, let me be a wayang in Thy hands.
Whether I be a hero or demon, king or commoner, animal, plan or tree,
let me be still a wayang in Thy hands..

Then shall I speak your tongue, whether I be valiant in the turmoil of battle,
or small as a child at play amongst the waringins.

This life of mine on earth is filled with toil and strife,
and my enemies, who are many, mock me.

Their ridicule flies to its target swifter than plumed arrow;
their words strike deeper than krisses.

My struggled is not yet at an end.
And soon Thou wilst take me,
and I shall lie amongst the others whose plays are over.

I shall be amongst the thousands in darkness.
And my struggle was not yet at an end: still my enemies dance.

Lord, let me be a wayang in Thy hands.
Then after a hundred or thousand year Thy hand will bestow upon me life and movement once more.

Then, one day when my time has come for Thy eternity,
Thou wilst call me to Thee again, and I shall speak and content anew.

And one day my enemies will be silenced,
and the demon will be lie prostrate on the ground.

O Lord, let me be a wayang in Thy hands.

MAKNA AJARAN DEWA RUCI

Orang Jawa menganggap cerita wayang merupakan cermin dari pada kehidupannya.

Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci.

Pencarian air suci Prawitasari

Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci.

Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka

Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi.

1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air.

2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi.

Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci.

Raksasa Rukmuka dan Rukmakala

Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil.

Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten).

Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan)

Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut.

Samudra dan Ular

Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain.

Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya. Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

1. Rila: dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain.

2. Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar.

3. Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar.

4. Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar.

5. Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran.

6. Santosa : selalu beraa dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat.

7. Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu.

8. Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak.

9. Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati.

10. Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar.

11. Samadi.

12. Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah.

Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci

Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Didalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut.

Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah :

Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening.

Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti.

Didalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut mati dalam hidup dan juga disebut hidup dalam mati. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain.

Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima

Bima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunytan-kenyataan sejati. Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat didalam paningal.

Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya.

Tusuk konde besar dari kayu asem

Kata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi.

Tanda emas diantara mata.

Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap.

Kuku Pancanaka

Bima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya.

Melambangkan :

1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati.

2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak.

Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.

Serat Sabdo Jati

Dhening: Raden Ngabehi Ronggowarsito


Megatruh

1. Hawya pegat ngudiya ronging budyayu
Margane suka basuki
Dimen luwar kang kinayun
Kalising panggawe sisip
Ingkang taberi prihatos

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,
agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala cita-cita,
terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar prihatin.


2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh
Galedehan kang sayekti
Talitinen awya kleru
Larasen sajroning ati
Tumanggap dimen tumanggon

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,
intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,
agar mudah menanggapi sesuatu.


3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu
Angayomi ing tyas wening
Eninging ati kang suwung
Nanging sejatining isi
Isine cipta sayektos

Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,
mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini kosong
namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.


4. Lakonana klawan sabaraning kalbu
Lamun obah niniwasi
Kasusupan setan gundhul
Ambebidung nggawa kendhi
Isine rupiah kethon

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.
Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.


5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu
Dadi panggonaning iblis
Mlebu mring alam pakewuh
Ewuh mring pananing ati
Temah wuru kabesturon

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,
sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad hati yang baik,
seolah-olah mabuk kepayang.


6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu
Hayuning tyas sipat kuping
Kinepung panggawe rusuh
Lali pasihaning Gusti
Ginuntingan dening Hyang Manon

Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan
yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,
sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.
Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.


7. Parandene kabeh kang samya andulu
Ulap kalilipen wedhi
Akeh ingkang padha sujut
Kinira yen Jabaranil
Kautus dening Hyang Manon

Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,
tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga
yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.


8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh
Kewuhan sajroning ati
Yen tiniru ora urus
Uripe kaesi-esi
Yen niruwa dadi asor

Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran
melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan
tercela akhirnya menjadi sengsara.


9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung
Anggelar sakalir-kalir
Kalamun temen tinemu
Kabegjane anekani
Kamurahane Hyang Manon

Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan
langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan
kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.


10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun
Yen temen-temen sayekti
Dewa aparing pitulung
Nora kurang sandhang bukti
Saciptanira kelakon

Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan setulus hati.
Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi
segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.


11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur
Saka pengunahing Widi
Ambuka warananipun
Aling-aling kang ngalingi
Angilang satemah katon

Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung
yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.


12. Para jalma sajroning jaman pakewuh
Sudranira andadi
Rahurune saya ndarung
Keh tyas mirong murang margi
Kasekten wus nora katon

Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,
cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,
makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan
diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.


13. Katuwane winawas dahat matrenyuh
Kenyaming sasmita sayekti
Sanityasa tyas malatkunt
Kongas welase kepati
Sulaking jaman prihatos

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan tersebut,
senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.


14. Waluyane benjang lamun ana wiku
Memuji ngesthi sawiji
Sabuk tebu lir majenum
Galibedan tudang tuding
Anacahken sakehing wong

Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877
(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi 1945).
Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,
hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.


15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu
Kala Suba kang gumanti
Wong cilik bisa gumuyu
Nora kurang sandhang bukti
Sedyane kabeh kelakon

Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.
Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan makan
seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.


16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput
Mulur lir benang tinarik
Nanging kaseranging ngumur
Andungkap kasidan jati
Mulih mring jatining enggon

Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,
bagaikan menarik benang dari ikatannya.
Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir
datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.


17.Amung kurang wolung ari kang kadulu
Tamating pati patitis
Wus katon neng lokil makpul
Angumpul ing madya ari
Amerengi Sri Budha Pon

Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,
kembali menghadap Tuhannya.
Tepatnya pada hari Rabu Pon.


18. Tanggal kaping lima antarane luhur
Selaning tahun Jimakir
Taluhu marjayeng janggur
Sengara winduning pati
Netepi ngumpul sak enggon

Tanggal 5 bulan Sela
(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,
Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)
kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan
sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.


19. Cinitra ri budha kaping wolulikur
Sawal ing tahun Jimakir
Candraning warsa pinetung
Sembah mekswa pejangga ji
Ki Pujangga pamit layoti

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.
(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi 1873).